BUDIDAYA AYAM PELUNG

Posted by ReTRo


Budidaya ayam pelung memiliki keuntungan yang tidak terbatas. Perawatan tidak membutuhkan penanganan khusus, yang harus diutamakan adalah bibit unggulan. Dengan bibit unggulan, hasil anakan akan memiliki nilai jual tinggi.

Rumah di Jalan Raya Dramaga ini terlihat asri dengan rimbunnya pepohonan di halaman depan rumah. Saat memasuki halaman rumah, suara-suara ayam yang merdu menyambut kedatangan kami. Ayam-ayam besar, tinggi, dengan warna-warni yang indah berlarian di depan rumah. Mereka tampak jinak dan biasa dengan kehadiran manusia. Rumah ini sudah sejak lama menjadi tempat budidaya ayam pelung. Pemiliknya, Oni Triyono sangat ramah menyambut kedatangan kami.
“Saya sudah membudidayakan ayam pelung sejak tahun 1994,” terang Oni memulai pembicaraan. Menurut Oni, aktivitasnya ini di­ mulai dari ketidaksengajaan. “Waktu itu saya iseng main ke daerah Cimacan, Cianjur. Ia mengutarakan bahwa ia ingin memulai budidaya ayam. Saudaranya berkata, bila ingin membudidayakan ayam cobalah untuk membudidayakan ayam pelung. Banyak yang bisa diambil dari ayam pelung misal budidayanya sama, namun memiliki nilai ekonomis yang lebih menguntungkan.
Ayam pelung merupakan plasma nutfah dari Cianjur. “Ayam ini asli berasal dari daerah Cianjur.” Ayam ini memiliki kekhasan genetika. Sifat-sifat genetik ini di antaranya suaranya kokokan ayam jantan memiliki suara yang panjang mengalun dan terdengar merdu. Pertumbuhan ayam ini sangat cepat. Bobot ayam pelung di atas rata-rata ayam biasanya. Ayam pelung memiliki berat antara 5 – 8 kilogram dan memiliki tinggi 40 – 50 cm. Cakar ayam pelung panjang dan besar, berwarna hitam, hijau, ku­ning atau putih. Ayam ini memiliki pial besar, bulat, dan memerah. Jengger ayam besar, tebal, tegak, berwarna merah darah, dan berbentuk tunggal. Warna bulu memiliki pola khas, umumnya campuran merah dan hitam, kuning dan putih, atau campuran hijau mengkilat.
“Kehadiran ayam ini tidak bisa dilepaskan dari cerita yang terus diyakini sebagai awal dikenalnya ayam pelung.” Di tahun 1850-an, hidup seorang petani bernama Haji Djarkasih atau akrab disapa Mama Acih. Ia merupakan ulama terkenal di Desa Bunikasih Kecamatan Warung Kondang Cianjur. Suatu waktu ia me­nemukan seekor ayam trundul (gundul) jantan di kebunnya. Anak ayam ini kemudian dikukut (dipelihara) oleh Mama Acih.
Pertumbuhan anak ayam tersebut sangatlah pesat. Selang beberapa bulan, ayam ini sudah menjadi seekor ayam jago yang bertubuh besar, tinggi, serta memiliki kokokan yang mengalun, merdu, dan lama. Mama Acih kemudian mengawinkannya dengan ayam betina biasa dan beranak pinak, ayam jago ini memiliki anakan yang bersifat genetik dengannya. Mama Acih kemudian menamakan ayam ini sebagai ayam pelung. Nama ayam pelung berasal dari bahasa sunda mawelung atau melung yang artinya melengkung, karena dalam berkokok menghasilkan bunyi melengkung. Nama pelung juga karena ayam ini memiliki leher yang panjang dalam mengakhiri suara/kokokannya dengan posisi melengkung.
“Ayam ini, sekarang sudah dikenal bukan hanya di Cianjur. Ayam pelung sudah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia dan bahkan hingga ke mancanegara. Ayam ini menjadi ayam kelas atas kesayangan para bangsawan dan pehobi binatang peliharaan.” Bahkan, Oni bercerita, suatu waktu ada seorang Putra Kaisar Jepang pernah berkunjung ke Warung Kondang untuk melihat peternakan ayam pelung tersebut. Ia menyempatkan membeli ayam pelung dan dibawa ke Jepang. Bahkan di Cianjur setiap tahun diselenggarakan kontes ayam pelung yang diikuti pemilik dan pemelihara ayam pelung se-Jawa Barat dan DKI Jakarta. Ayam pelung terbaik yang menjadi juara kontes bisa mencapai harga jutaan rupiah.
“Budidaya Ayam pelung umumnya sama dengan budidaya ayam kampung.” Menurut Oni, ayam pelung memiliki kebiasaan seperti layaknya ayam kampung. Yang harus diperhatikan jika ingin membudidayakannya adalah bibit. Oni meyakini, kualitas ayam pelung tergantung dari bibit. Bila bibit bagus atau bibit dari ayam jago yang selalu menang kontes, maka anaknya pun akan memiliki sifat yang sama seperti indukannya. “Untuk perawatan sama saja dengan budidaya ayam biasa. Yang membedakan adalah pemberian buah-buahan seperti pisang siem atau pisang batu untuk merangsang suara ayam. Selain itu, ayam perlu dijemur sekitar 10 – 25 menit setiap hari.
Pangsa pasar ayam pelung sudah memiliki pasar tersendiri. Pa­sar untuk ayam pelung umunya adalah pehobi ayam hias. Mereka melakukan pertemuan rutin dalam sebuah kontes ayam pelung. Di sinilah pe­luang – peluang bisnis dan jalinan jual – beli ayam pelung biasa dilakukan. Selain diadakan lomba tarik suara dan lainnya juga merupakan arena bursa penjualan dari anak ayam sampai ayam dewasa, dari usia 0 s/d 1 bulan (jodoan), usia 3 bulan (sangkal), usia 6 s/d 7 bulan (jajangkar), sampai k ayam pelung yang sudah jadi (siap kontes). Dengan demikian lomba/kontes ayam pelung sekaligus merupakan bursa penjualan, promosi dan sosialisasi khusus ayam pelung. Melalui bursa semacam ini para pembeli, penjual dan penggemar merasa puas karena pada umumnya mendapatkan bibit-bibit maupun induk yang berkua­litas dan tambahan pengetahuan tentang segala hal mengenai ayam pelung yang cukup memuaskan dari sesama peternak dan penggemar. “Harga jual ayam ketergantungan terhadap kualitas ayam. Bila ayam pelung jantan adalah ayam juara, harga jualnya bisa jutaan rupiah.” Untuk ayam yang tidak memiliki kualitas yang bagus umumnya hanya dijadikan sebagai ayam pedaging saja.

Analisa Usaha Ayam Pelung

Modal yang dibutuhkan di budidaya ayam pelung umumnya tidak terlalu besar. Pengeluaran tertinggi adalah di pembelian bibit.

Investasi kandang Rp 2.000.000
Pembelian bibit jantan
Rp 1.000.000
Pembelian bibit betina
Rp 250.000
Biaya pakan dalam satu tahun
Rp 2.500.000
Pengeluaran lain-lain Rp 500.000

Total Rp 6.250.000

Pendapatan
Dari satu indukan jantan dan betina bisa bertelur sebanyak 10 – 15 butir telur dalam 2 bulan dengan penetasan sekitar 80%. Harga anak ayam memiliki kelipatan per bulan.

12 ekor anak ayam umur
3 bulan x Rp 200.000
= Rp 2.400.000

Dalam satu tahun ayam pelung
mampu 6 kali bertelur.
Rp 2.400.000 x 6 =
Rp 14.400.000

Rp 14.400.000 – Rp 6.250.000
Rp 8.150.000

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment