Manajemen Penyakit pada Ayam

Posted by ReTRo

Mengapa Ayam Sakit?

Kematian ayam secara mendadak merupakan salah satu tanda bahwa ayam mengalami sakit
(Sumber : Dok. Medion)

Ngorok, tortikolis, penurunan kualitas maupun kuantitas produksi telur, kematian mendadak, dll sering kita jumpai di peternakan ayam pedaging maupun petelur, tak terlewatkan juga pada ayam jantan, ayam kampung maupun breeding. Kondisi yang demikian menunjukkan adanya ketidakseimbangan interaksi yang terjadi baik kondisi hospes (ayam,red), bibit penyakit maupun kondisi lingkungan yang kurang bersahabat sehingga organ tubuh ayam tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

a) Hospes
Tak dipungkiri, adanya rekayasa genetik baik pada ayam pedaging maupun petelur, selain berdampak positif karena produksi yang lebih cepat dan tinggi ternyata memiliki dampak negatif. Pertumbuhan berat badan yang cepat tidak diimbangi dengan pertumbuhan organ dalam seperti jantung sehingga organ tersebut harus bekerja ekstra keras. Selain itu, pertumbuhan bulu pun semakin diperlambat demi efisiensi alokasi pakan guna mendapatkan karkas yang jauh lebih besar. Tak heran, sedikit gangguan/kondisi yang tidak nyaman mampu “mengobrak-abrik” sistem pertahanan tubuh ayam. Alhasil ayam pun mudah terinfeksi oleh bibit penyakit yang ada di lingkungan. Disadari atau tidak, hampir setiap saat ayam selalu kontak dengan bibit penyakit yang ada di lingkungan.
Fakta yang ada, bibit penyakit akan selalu berusaha menginfeksi ayam, namun ayam akan selalu berusaha mengeliminasi bibit penyakit. Layaknya pertahanan negara, di dalam tubuh ayam pun juga dilengkapi tentara-tentara penghalau musuh/bibit penyakit yang menginfeksi. Dengan demikian, untuk mampu menimbulkan sakit, agen bibit penyakit harus mampu melewati sederetan sistem pertahanan tersebut. Pertahanan tubuh ayam terdiri beberapa “barier” diantaranya :
  • Pertahanan fisik-mekanik
Kulit, merupakan benteng pertahanan fisik dan mekanik pertama. Kulit merupakan struktur paling luar dari tubuh yang mencegah masuknya benda asing. Kebanyakan bakteri tidak dapat bertahan hidup dalam waktu lama di kulit akibat rendahnya pH serta adanya hambatan langsung dari asam laktat dan asam lemak. Selain kulit, silia hidung dan selaput lendir juga sebagai pertahanan fisik-mekanik pada tubuh ayam yang pertama.
Setiap partikel udara yang masuk melalui rongga hidung akan mengalami proses penyaringan sehingga agen cemaran akan tertahan. Tidak semua partikel bisa tersaring, hanya partikel yang berukuran 3,7-7,0 mikron saja. Bibit penyakit yang terperangkap dalam silia hidung akan dikeluarkan oleh ayam melalui proses bersin atau batuk. Sedangkan partikel yang berukuran kecil akan lolos dari proses penyaringan silia hidung, namun akan berhadapan dengan lendir yang dihasilkan oleh selaput hidung. Lendir berperan dalam mencegah perlekatan bibit penyakit ke lapisan epitel tubuh.
Lendir mengandung enzim dan surfaktan (penurun tegangan permukaan) yang mampu membunuh agen penyakit. Lendir juga berfungsi mengencerkan/membasuh agen penyakit maupun partikel cemaran, sehingga akan mempermudah kerja silia dalam mengeliminasi. Jadi bisa dibayangkan bagaimana jadinya apabila kulit, silia dan lendir mengalami gangguan dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pastilah, agen penyakit akan lebih mudah mencapai organ target.
Chronic respiratory diseases (CRD) merupakan salah satu contoh penyakit yang mampu merusak silia hidung serta sel epitel penghasil lendir. Bisa dikatakan, CRD merupakan salah satu penyakit immunosupressant yang berperan sebagai pembuka pintu gerbang penyakit lain seperti Newcastle diseases (ND), infectious bronchitis (IB), avian influenza (AI), infectious coryza, dll.
  • Pertahanan kimiawi
Pertahanan kimiawi berhubungan dengan pertahanan tubuh yang ada di permukaan. Pengaturan derajat keasaman (pH) serta adanya enzim-enzim dalam tubuh merupakan contoh dari pertahanan kimiawi.
  • Pertahanan Biologi
Pertahanan biologi terdiri dari kekebalan seluler dan humoral. Kekebalan seluler dimainkan oleh sel darah putih. Salah satunya makrofag yang berperan dalam proses membunuh, menghancurkan dan mengeliminasi benda asing termasuk bibit penyakit. Apabila ada benda asing yang beredar dalam tubuh maka dengan gesitnya, sel-sel makrofag akan segera berkumpul dan menghancurkannya. Selain makrofag, sel darah putih yang ikut berperan dalam sistem kekebalan seluler yaitu neutrofil, basofil dan eosinofil.
Kekebalan humoral diperankan oleh antibodi. Antibodi dapat berasal dari induk (maternal antibodi), vaksinasi maupun infeksi dari lapangan. Antibodi berfungsi untuk menetralisir antigen/bibit penyakit yang berhasil masuk ke dalam tubuh ayam. Antibodi dihasilkan oleh organ limfoid. Bursa Fabricius dan thymus merupakan sistem kekebalan primer yang paling utama. Bursa Fabricius akan tumbuh optimal pada umur muda dan akan menghilang ketika dewasa kelamin. Organ kekebalan sekunder yang berperan adalah kelenjar herderian yang terdapat pada mata, limfa, caeca tonsil, lempeng peyer di sepanjang usus maupun sumsum tulang terutama pada tulang panjang.
Pemberian pakan dengan kualitas rendah atau tercemar mikotoksin berpengaruh langsung pada kondisi kesehatan ayam
(Sumber : Anonimus)

Banyak faktor yang menyebabkan organ pertahanan tubuh tersebut tidak berfungsi optimal dan memudahkan bibit penyakit menginfeksi. Penurunan kondisi tubuh biasanya berhubungan dengan faktor kualitas maupun kuantitas pakan, kondisi stres maupun penyakit yang bersifat immunosuppressive (menekan sistem kekebalan). Stres akan memicu kelenjar adrenal memproduksi hormon corticosteroid (ACTH) dimana hormon ini akan menghambat kerja dari organ limfoid (kekebalan,red) sehingga titer antibodi yang dihasilkan menjadi tidak optimal. Contoh penyakit immunosupresant antara lain Gumboro, Mareks, mikotoksin, infeksi Reo virus yang mampu merusak kekebalan primer. Sedangkan penyakit yang mampu merusak kekebalan sekunder diantaranya Newcastle diseases, avian influenza, koksidiosis, dll.

b) Bibit Penyakit
Berdasar teori evolusi, makhluk hidup akan selalu berusaha dengan berbagai cara agar tetap bertahan. Begitu pula dengan bibit penyakit, yang selalu berusaha menginfeksi hospes agar mampu bertahan. Temperatur yang terlalu rendah, kelembaban tinggi, litter basah, kadar amonia tinggi dan tumpukan feses merupakan media empuk bagi pertumbuhan bibit penyakit. Banyaknya semak-semak atau genangan air memicu tumbuhnya jentik-jentik nyamuk yang menjadi vektor penularan penyakit leucocytozoonosis. Kemampuannya dalam menginfeksi akan sangat dipengaruhi oleh banyaknya jumlah agen penyakit, tingkat keganasan serta kondisi ayam itu sendiri. Proses desinfeksi yang “asal-asalan” saja tidak akan mampu membasmi bibit penyakit secara tuntas.
Setelah bibit penyakit mampu melewati pertahanan fisik dan mekanik, dalam menjalankan aksinya, bakteri dan virus memiliki metode yang berbeda. Setelah melewati barier tersebut, bakteri akan membentuk kolonisasi yang kemudian akan menembus organ target (sel,red). Berbeda halnya dengan virus. Virus akan menembus organ target terlebih dahulu, baru kemudian mengalami replikasi (perbanyakan diri,red).

c) Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang terkadang tidak dapat kita kendalikan. Kondisi cuaca yang ekstrim akibat efek “global warming”, curah hujan yang terlalu tinggi adalah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan namun dapat diantisipasi agar ayam di dalam kandang tetap merasa nyaman.
Suhu dan kelembaban yang tidak sesuai akan berdampak pada gangguan pernapasan. Suhu yang nyaman bagi ayam adalah 25-28OC dengan kelembaban berkisar 60-70%. Apabila kelembaban terlalu rendah (<50%) maka akan menyebabkan mukosa hidung menjadi kering sehingga aktivitas silia serta produksi lendir menjadi terhambat. Alhasil, bibit penyakit akan dengan mudah melewati pertahanan yang pertama.
Adanya gas berbahaya seperti amonia berpengaruh langsung terhadap kesehatan unggas. Amonia merupakan gas alkali yang dihasilkan dari pengomposan (decomposition) bahan organik atau subtansi nitrogen oleh bakteri dan bersifat iritasi. Semakin tinggi kadar amonia, maka iritasi yang ditimbulkan pun semakin tinggi bahkan dapat mempengaruhi produksi telur. Tingginya kadar amonia dapat disebabkan oleh kadar protein yang terlalu tinggi sehingga akan dibuang melalui feses. Tingginya kadar amonia menyebabkan produksi lendir yang berlebih sehingga akan mengganggu kerja silia. Selain itu juga menyebabkan iritasi pada konjungtiva mata.
Infrastruktur kandang yang kurang baik akan berpengaruh terhadap kualitas udara
(Sumber : Dok. Medion)

Kondisi suhu, kelembaban dan kadar amonia yang tidak sesuai dapat diakibatkan oleh manajemen yang kurang bagus. Jarak kandang terlalu dekat, infrastruktur kandang kurang baik, buka tutup tirai yang tidak sesuai ditambah tidak adanya aliran angin mengakibatkan terganggunya sirkulasi udara. Kondisi litter lembab, tumpahan air pada litter, feses yang menumpuk berdampak pula pada tingginya amonia dalam kandang.

Bagaimana Penyakit Menular?
Penularan penyakit dapat terjadi secara vertikal yaitu ditularkan dari induk ke anak maupun secara horizontal yaitu dari ayam sehat kontak langsung dengan ayam sakit atau melalui perantara seperti peralatan peternakan, alas kaki, dll yang tercemar atau via hewan perantara seperti tikus dan serangga. CRD, colibacilosis, EDS merupakan contoh penyakit yang dapat ditularkan secara vertikal maupun horizontal. Sedangkan AI, ND, korisa, Gumboro merupakan contoh penyakit yang hanya dapat ditularkan secara horizontal.

Bagaimana Agar Ayam Tidak Sakit?
Dalam pengendaliannya pun, maka yang perlu kita perhatikan antara lain:
a)   Mempertahankan kondisi ayam tetap prima
Dalam rangka mempertahankan kondisi ayam agar tetap prima dapat dilakukan dintaranya:
  • Manajemen brooding yang optimal
Pada 2 minggu pertama, pertumbuhan ayam pedaging sangat menentukan keberhasilan pada fase berikutnya. Pada masa ini terjadi pertumbuhan organ-organ vital ayam seperti saluran pencernaan, organ limfoid (pembentuk kekebalan tubuh,red), dll. Sebagai contoh apabila pada pemeliharaan ini terjadi gangguan pada pertumbuhan organ limfoid, maka respon terhadap vaksin menjadi kurang optimal. Sedangkan pada ayam petelur, manajemen pada fase starter dan grower akan sangat mempengaruhi pada fase produksi.
  • Pemenuhan kebutuhan pakan baik secara kualitas maupun kuantitas
Pakan memegang peranan besar dalam memacu pertumbuhan. Berikanlah pakan sesuai kebutuhan dan pastikan kualitasnya memenuhi standar. Jangan sekali-sekali memberikan pakan yang sudah menggumpal atau mengandung jamur. Gunakan metode sistem FIFO “First In First Out” (pakan yang datang awal di gunakan terlebih dahulu) untuk menghindari kesempatan jamur tumbuh. Perhatikan pula tempat penyimpanan baik suhu, kelembaban serta pastikan aman dari tikus/serangga lainnya.
  • Pemberian air minum sesuai standar
Secara fisiologis air berfungsi sebagai media berlangsungnya proses kimiawi di dalam tubuh. Air juga berperan dalam pengangkut zat nutrisi, sisa metabolisme, mempermudah proses pencernaan ransum, pengaturan suhu tubuh, melindungi sistem saraf maupun melumasi persendian. Besarnya peranan air dalam tubuh, maka kuantitas dan kualitas air harus terpenuhi. Air minum yang berkualitas adalah yang memenuhi standar secara fisik, kimia maupun biologi. Tolak ukur fisik dari air berkualitas meliputi air tidak berwarna (jernih), tidak berbau dan berasa, dan tidak ada partikel lumpur serta suhu berkisar 20-24OC. Secara kimiawi, air harus memiliki pH netral, tidak sadah. Sedangkan secara biologi, air harus bebas dari cemaran bakteri Escherichia coli, salmonella sp. ataupun coliform lainnya.
  • Vaksinasi
Vaksinasi bertujuan menggertak sistem kekebalan tubuh guna menghasilkan antibodi. Program vaksinasi perlu disesuaikan dengan kondisi setempat. Keseragaman dosis vaksin yang diterima oleh ayam perlu diperhatikan serta pada saat vaksinasi, pastikan ayam dalam kondisi sehat. Jika aplikasi via air minum, gunakan air yang berkualitas. Jika aplikasi melalui injeksi, pastikan alat suntik dalam kondisi steril dan jarum masih tajam untuk menghindari terjadinya peradangan pada area bekas injeksi.
  • Pemberian multivitamin
Vitamin merupakan sediaan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh namun tidak dihasilkan oleh tubuh itu sendiri kecuali vitamin C. Pemberian multivitamin seperti Vita Stress, Strong n Fit, Aminovit, Fortevit berperan untuk meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh ayam. Defisiensi vitamin A dan C akan menyebabkan ketidakmulusan selaput lendir. Selain vitamin, dalam pakan dapat ditambahkan imbuhan pakan seperti Top Mix, Mineral Feed Supplement A guna memacu pertumbuhannya serta meningkatkan efisiensi pakan.
Feed suplement, salah satunya bertujuan untuk memperbaiki konversi ransum
(Sumber : Dok. Medion)

  • Meminimalkan faktor stres
Stres pada ayam dapat diakibatkan karena heat stress (stres panas), cold shock, kegaduhan, dll. Sehingga untuk meminimalkannya, perlu dicari akar permasalahan penyebab ayam tidak nyaman untuk selanjutnya diantisipasi.
  • Cleaning program
Cleaning program merupakan suatu kegiatan pemberian antibiotik namun ayam belum menunjukkan gejala klinis yang nyata. Hal ini di lakukan guna membunuh bibit penyakit yang sedang dalam masa inkubasi (masa dimana bibit penyakit masuk ke dalam tubuh sampai menimbulkan gejala klinis). Penentuan cleaning program berdasarkan sejarah pemeliharaan sebelumnya. Sebagai contoh, pada ayam pedaging sering terserang CRD pada umur 24 hari. Maka pada pemeliharaan berikutnya, dapat dilakukan pemberian antibiotik seperti Proxan-S, Neo Meditril atau Doctril pada umur 19 hari selama 5 hari berturut-turut. Dengan demikian, kerugian pun dapat diminalisir.
b)   Meminimalkan bibit penyakit
Biosecurity merupakan kata kunci dari proses pengendalian bibit penyakit. Tanpa penerapan biosecurity, maka dapat dipastikan bibit penyakit akan tetap bercokol di dalam kandang.
  • Kosong kandang optimal dan sistem “all in all out
Kedua hal tersebut merupakan suatu usaha untuk memutus rantai siklus hidup penyakit. Pada prinsipnya, agen bibit penyakit memerlukan hospes untuk mampu mempertahankan hidup. Dengan demikian, semakin lama kosong kandang maka bibit penyakit akan semakin lama pula menemukan hospes barunya sehingga akan mengalami penurunan tingkat keganasannya dan akhirnya mati.
Istirahat kandang direkomendasikan minimal 2 minggu terhitung sejak kandang bersih. 2-3 hari sebelum chick in, lakukan penyemprotan kandang kembali dengan desinfektan. Jika sistem pemeliharaan tidak memungkinkan dengan sistem all in all out (terutama di ayam petelur) maka untuk meminimalisir kejadian outbreak penyakit, dalam operasional kesehariannya pemeliharaan dilakukan dari ayam kecil terlebih dahulu kemudian baru ke kandang ayam dewasa.
  • Desinfeksi dan sanitasi
Lakukan kegiatan desinfeksi dan sanitasi. Kegiatan tersebut meliputi desinfeksi tempat ransum dan minum maksimal 3-4 hari sekali, egg tray, lalu lintas/kendaraan yang keluar masuk kandang, penyemprotan kandang serta sanitasi air minum dengan Desinsep, Medisep, Antisep, Neo Antisep (pilih salah satu). Tidak ada salahnya, jika kita membatasi lalu lintas/orang yang keluar masuk kandang terutama yang tidak memiliki kepentingan. Sebelum masuk kandang, alas kaki sebaiknya disikat karena tidak menutup kemungkinan bibit penyakit bersembunyi di sela-sela alas kaki sehingga dengan penyelupan saja tidak efektif karena terhalang oleh material seperti lumpur atau tanah.
  • Pembersihan kotoran secara rutin
Terutama pada ayam petelur, feses harus dibersihkan secara periodik setiap bulan. Tumpukan feses yang basah menjadi tempat tumbuhnya larva lalat, sedangkan lalat berperan sebagi salah satu vektor pembawa penyakit.
  • Pengendalian hewan liar dan vektor penyakit
Kumbang, nyamuk, semut, lalat, siput, burung, dll berperan sebagai vektor (pembawa) bibit penyakit. Berikut contoh jenis vektor yang dapat menularkan penyakit:

Fogging untuk meminimalkan populasi nyamuk di lingkungan kandang
(Sumber : Dok. Medion)

Jadi dalam konsep biosecurity, keberadaan vektor tersebut tidak boleh diabaikan. Jika memang diperlukan pestisida, maka pergunakan sebijaksana mungkin karena penggunaan yang tidak sesuai justru menjadi malapetaka (toksik,red) bagi ayam.
  • Isolasi ayam sakit
Ayam sakit merupakan sumber penularan bibit penyakit yang utama. Pada kasus korisa, konsentrasi bakteri tertinggi terdapat pada lendir. Sedangkan pada kasus colibacilosis, konsentrasi bakteri tertinggi terdapat pada kotoran. Dengan demikian, ayam yang sakit sebaiknya segera dipisahkan sehingga penularan dapat diminimalkan. Pada saat melakukan pemeriksaan patologi anatomi (bedah bangkai, red), hindari lokasi yang terlalu dekat dengan kandang.
Kandang isolasi, berperan dalam meminimalkan penularan bibit penyakit
(Sumber : Dok.Medion)

c)  Memberikan kondisi lingkungan kandang yang nyaman untuk ayam
Kondisi lingkungan yang nyaman meliputi ketercukupannya udara, air dan pakan baik secara kualitas maupun kuantitas. Untuk mendapatkan kondisi yang demikian dapat dilakukan diantaranya :
  • Ketebalan litter minimal 8-12 cm
Selain berfungsi untuk menahan panas sehingga mampu memberikan rasa hangat tubuh ayam, litter berfungsi menyerap feses sehingga meminimalkan kadar amonia. Jika terdapat litter yang basah, terutama di area sekitar tempat minum, segera diambil dan taburi dengan sekam yang baru guna menghindari berkembangnya bibit penyakit
  • Pengaturan ventilasi udara
Pengaturan ventilasi udara seperti buka tutup tirai sangat diperlukan terutama pada kondisi fluktuatif seperti saat ini. Selain itu, pengaturan ventilasi udara akan membantu kelancaran sirkulasi udara dari luar ke dalam kandang sehingga kadar amonia terkendali
  • Pengaturan kelembaban dan suhu
Kelembaban dan suhu harus selalu dijaga agar tetap stabil sehingga tidak mempengaruhi produktivitas ayam. Apabila cuaca terlalu panas, antisipasi dengan atap monitor atau penggunaan sistem hujan buatan sehingga kondisi di kandang tidak terlalu panas. Untuk pengaturan kelembaban, jangan sepelekan tampias hujan karena tampias hujan yang masuk ke kandang akan menyebabkan litter lembab sehingga bisa menjadi sarang bibit penyakit. Penanaman pohon besar di sekitar kandang juga harus dihindari karena akan mempengaruhi suhu dan kelembaban kandang.
Tiga kalimat kunci agar ayam tidak sakit yaitu dengan mempertahankan ayam tetap dalam kondisi prima, meminimalkan tantangan bibit penyakit di lapangan serta memberikan lingkungan yang nyaman untuk ayam. Ketidakseimbangan ketiga faktor tersebut akan berdampak negatif pada produktivitasi ayam. Salam



Info Medion Edisi Oktober 2011

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment